Kekosongan
Eksistensi Manusia Modern
Staf pengajar Ganesha
Operation (GO),
alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Dosen Universitas Islam
As-Syafi’iah (UIA) dan Universitas Indonusa Esa Unggul (UIEU) Jakarta
Derap langkah kemajuan teknologi sebagai
perpanjangan potensi manusia, telah semakin menunjukkan taring keberhasilan.
Produk potensi manusia itu telah pula, mau tidak mau, mempengaruhi perilaku
keseharian kita sebagai makhluk sosio-kultural. Perubahan-perubahan terhadap
dimensi sosio-kultural memungkinkan kita untuk segera mengambil sikap tertentu,
baik preventif maupun partisipatif.
Sikap preventif yang diambil adalah
tanggungjawab yang tidak ringan untuk dilakukan, sementara kita memposisikan
diri dalam wilayah konsumen teknologi. Hal ini akan mengakibatkan pengurasan
energi fisik maupun psikis yang tidak kecil.
Meski demikian, bila sikap partisipatif yang dipilih -atas dasar
keterlibatan yang sukar terelakkan sebab kita berkecimpung secara total dalam
pemanfaatan teknologi-, berarti kita siap menerima segala konsekuensi logis
yang bakal menyerang kita dari arah yang tidak diduga-duga.
Katakanlah kita mengambil sikap
partisipatif secara tidak acuh (without thinking twice), maka kita akan tergusur oleh
kebengisan teknologi. Misalnya, semalam suntuk kita browsing internet untuk keperluan kerja atau
sekadar iseng, esok hari kita bangun kesiangan, lantas lupa mendirikan shalat
Subuh.
Contoh ini menunjukkan diri kita yang tengah mengalami
pergeseran kehangatan komitmen beragama (religious commitment).
Karena terus menerus berpacu dalam kancah kemajuan teknologi, atas dalih
pemanfaatan yang terkesan “mumpung sempat” itulah ibadah ritual dan sosial kita
secara gradual tersisihkan.
Betapa tidak, kita sibuk dengan setumpuk pekerjaan di kantor, shooping ke setiap supermarket, atau
sibuk mencari uang tanpa berhati-hati dari mana dan akan ke mana uang tersebut
dibelanjakan.
Ternyata, kita telah disibukkan oleh sosok makhluk baru, yaitu
teknologi atas nama “pola hidup modern” (modern lifestyle). Tentu, kita tidak bisa menutup
mata untuk mengungkapkan bahwa teknologi harus disyukuri sebagai buah dari ilmu
pengetahuan (science), tapi kita tentu tak lantas pula
melupakan kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.
Saking sibuknya dengan segala pekerjaan,
waktu yang tersisa untuk mendirikan shalat tinggal sedikit. Dari waktu yang
hanya beberapa menit itu, kita terus didera rasa letih, sehingga shalat tidak
kita laksanakan sekali. Bila kita terlalu sibuk mengejar dunia, menurut
sementara psikolog, kita akan terjangkit gejala psikosomatis.
Di samping menderita gejala
psikosomatis, tanpa filter dan sikap bijaksana dalam mengimbangi kemajuan
teknologi yang demikian pesat, lambat laun kita akan menderita kekosongan
eksistensial (existential vacuum).
Kekosongan eksistensial adalah gejala
psikis orang modern yang mengalami keterasingan diri. Terasing kepada diri
sendiri, lingkungan, bahkan Tuhan.
Keterasingan kepada Tuhan inilah yang
paling berbahaya. Sebab, manusia modern cenderung akan berbuat bebas tanpa
batas, yang justru akan membuat dirinya terpuruk ke dalam lembah kesesatan.
Orang-orang “modern” tipe inilah yang lebih rendah daripada binatang ternak
sekalipun. Allah berfirman,“Kemudian
Kami kembalikan ia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”(Qs.
at-Tîn [95]: 5)
Tanggungjawab Moral
Kemajuan teknologi seharusnya terikat
dengan tanggungjawab moral (moral responsibility), sehingga segala akibat yang
terjadi tidak membabi-buta. Siapapun tidak akan menolak kemajuan teknologi,
tapi bila ia justru membangun peradaban yang destruktif, sebagai muslim, kita
harus berani mengatakan “tidak”.
Pertanyaannya, dari dan untuk siapakah
tanggungjawab moral itu Tentu dari dan untuk kita. Yang harus senantiasa kita
ingat ialah bahwa setiap amal perbuatan, sekecil apapun, akan diminta
pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Di sana, kita tak dapat mengelak untuk
berbohong di hadapan Allah.
Disebutkan dalam al-Qur`an, “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan
sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa
mengerjakan kejahatan sebesar zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.” (Qs. al-Zalzalah [99]: 7-8)
Kemajuan teknologi (fikr), akan bersifat fatalistik sebelum
dipadukan dengan zikir (dzikr), kata Muhamad Iqbal, seorang
penyair-filosof asal Pakistan. Bila kita hanya bergantung pada fikr,
berarti kita telah memutuskan untuk menjadi orang “modern” yang menderita
kekosongan eksistensial.
Sumber : http://majalahqalam.com/artikel/artikel-sosial-politik/kekosongan-eksistensi-manusia-modern/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar